Kamus Bisnis Online: Cuma Pro yang Tahu 50+ Istilah Ini!

  • Posted by
  • Posted in Bisnis
  • Komentar Dinonaktifkan pada Kamus Bisnis Online: Cuma Pro yang Tahu 50+ Istilah Ini! Komentar

Terjun ke dunia jualan online tanpa paham kamus istilah dalam bisnis online itu sering bikin pelaku usaha salah langkah. Mulai dari miskomunikasi dengan pembeli sampai strategi jualan yang kurang optimal. Artikel ini akan membantu kamu memahami istilah penting beserta contoh nyata agar lebih siap menjalankan bisnis online.

50+ Istilah dalam Kamus Bisnis Online

Kalau kamu sudah pernah jualan online, pasti pernah ngalamin situasi seperti ini: pembeli tanya panjang lebar, tapi ujungnya hilang. Atau ada yang komplain karena merasa barang “lama dikirim”, padahal kamu pakai sistem PO.

Masalahnya bukan di bisnis kamu, sering kali ini soal pemahaman istilah. Maka dari itu, kamus bisnis online bukan sekadar teori, tapi alat bantu biar operasional kamu lebih rapi dan minim drama.

#1. COD (Cash on Delivery)

COD adalah metode pembayaran di mana pembeli membayar saat barang diterima. Sistem ini biasanya dipilih oleh pembeli yang masih ragu transfer uang di awal.

Dalam praktiknya, COD sering membantu meningkatkan trust, terutama kalau kamu baru mulai jualan. Misalnya kamu jual produk fashion di marketplace, mengaktifkan COD bisa menaikkan conversion rate karena buyer merasa lebih aman.

Baca Juga: Omzet Turun Pasca-Lebaran? Cek 3 Strategi Remarketing Ini!

#2. PO (Pre Order)

Pre order artinya sistem penjualan di mana barang belum tersedia saat transaksi dilakukan.

Contoh nyata: kamu jual hampers custom. Setiap order butuh waktu produksi 3–5 hari. Nah, ini disebut PO. Tantangannya adalah kamu harus jelas di deskripsi, karena kalau tidak, pembeli bisa komplain merasa pengiriman lama.

#3. Flash Sale

Flash sale adalah strategi diskon besar dalam waktu terbatas.

Biasanya dipakai untuk:

  • Menghabiskan stok lama
  • Meningkatkan traffic toko
  • Memancing urgency pembeli

Contoh: kamu bikin promo “Diskon 60% hanya jam 12–13 siang”. Efeknya? Lonjakan order dalam waktu singkat.

Baca Juga: Tanpa Fotografer! Ini Rahasia Sukses Bisnis Self Foto Studio

#4. Tracking Number (Nomor Resi)

Tracking number adalah kode unik yang diberikan oleh jasa ekspedisi untuk melacak posisi paket. Ini bukan hanya nomor tapi alat untuk menjaga kepercayaan pembeli. 

Contoh situasi nyata: kamu sudah kirim barang hari ini, tapi baru upload resi besok. Dari sisi pembeli, ini terlihat seperti kamu belum kirim apa-apa. Akibatnya? Mereka mulai khawatir, chat jadi lebih intens, bahkan bisa berujung komplain.

Makanya, biasakan:

  • Upload resi di hari yang sama
  • Informasikan estimasi pengiriman sejak awal
  • Gunakan sistem otomatis kalau jualan di marketplace

Hal kecil seperti ini sering jadi pembeda antara toko yang dipercaya dan yang ditinggalkan.

#5. Dropship

Dropship adalah model bisnis di mana kamu menjual produk tanpa harus menyimpan stok sendiri. Semua pengiriman dilakukan oleh supplier.

Meski tampak simpel dan minim risiko, tapi dalam praktiknya, dropship punya tantangan yang tidak sedikit.

Contoh nyata: kamu sudah closing order, tapi ternyata supplier kehabisan stok. Atau lebih parah, barang yang dikirim tidak sesuai kualitas yang kamu janjikan ke pembeli.

Karena kamu tidak pegang barang, kamu juga tidak bisa kontrol:

  • Kualitas produk
  • Kecepatan packing
  • Ketepatan pengiriman

Dropship itu cocok untuk belajar jualan, tapi tetap butuh sistem yang rapi supaya tidak jadi bumerang.

#6. Restock

Restock adalah proses mengisi ulang stok barang yang sudah habis.

Di bisnis online, timing restock itu krusial. Banyak seller kehilangan potensi penjualan hanya karena telat restock saat produk sedang naik.

Contoh yang sering terjadi: produk kamu viral di TikTok, order mulai masuk deras, tapi stok habis di hari kedua. Karena tidak siap restock cepat, momentum hilang begitu saja.

Idealnya, kamu sudah punya perhitungan:

  • Produk mana yang fast moving
  • Berapa rata-rata penjualan per hari
  • Kapan harus mulai restock sebelum benar-benar habis

Restock bukan sekadar isi ulang barang, tapi bagian dari strategi menjaga cash flow dan momentum penjualan.

#7. Ongkir (Shipping Fee)

Ongkir adalah biaya pengiriman dari seller ke pembeli. Ongkir sering jadi faktor penentu apakah seseorang jadi beli atau tidak. Banyak kasus di mana pembeli sudah tertarik produk, tapi batal karena ongkir dianggap terlalu mahal.

Contoh nyata: harga produk Rp50 ribu, tapi ongkir Rp30 ribu. Secara psikologis, ini terasa “tidak worth it” bagi pembeli.

Makanya banyak seller menggunakan strategi seperti:

  • Free ongkir dengan minimum pembelian
  • Subsidi ongkir sebagian
  • Bundling produk untuk “menutupi” ongkir

Mengelola ongkir dengan tepat bisa meningkatkan conversion tanpa harus menurunkan harga produk.

#8. Refund

Refund adalah proses pengembalian dana ke pembeli karena alasan tertentu.

Contoh: pembeli menerima barang rusak karena ekspedisi. Kalau kamu langsung defensif dan menolak refund, kemungkinan besar kamu kehilangan pelanggan dan bahkan dapat review buruk.

Banyak seller menganggap refund sebagai kerugian, padahal dalam banyak kasus justru ini investasi jangka panjang. Jika kamu responsif, pembeli justru bisa jadi loyal karena merasa dilayani dengan baik.

Dalam bisnis online, reputasi sering lebih mahal daripada satu transaksi.

#9. Bundle

Bundle adalah strategi menjual beberapa produk dalam satu paket dengan harga lebih hemat. Secara psikologis, pembeli merasa mendapatkan “lebih banyak” dengan harga yang relatif lebih murah.

Kalau diterapkan dengan tepat, bundle bisa jadi salah satu strategi paling efektif tanpa perlu biaya iklan tambahan.

#10. Nett Price

Nett price adalah harga pas yang tidak bisa ditawar lagi. Istilah ini sering digunakan untuk menjaga margin tetap aman, terutama jika kamu sudah menghitung harga dengan ketat.

Contoh situasi: kamu sudah set harga dengan margin tipis karena ingin bersaing, tapi tetap ada pembeli yang mencoba nego jauh. Kalau tidak ada batasan seperti “nett”, kamu bisa terus terjebak dalam negosiasi yang melelahkan.

#11. DP (Down Payment)

DP adalah pembayaran awal sebagai tanda jadi dari pembeli sebelum transaksi dilanjutkan.

Dalam praktik bisnis online, DP sering dipakai untuk menghindari pembatalan sepihak. Misalnya kamu jual produk custom seperti jersey komunitas atau furniture kecil. Tanpa DP, risiko buyer cancel di tengah jalan itu tinggi. Dengan DP 30–50%, kamu bisa lebih aman secara cash flow sekaligus memastikan buyer benar-benar serius.

#12. DM / PM

DM (Direct Message) atau PM (Personal Message) adalah komunikasi pribadi antara penjual dan pembeli. Di sinilah “medan perang” sebenarnya. Banyak transaksi terjadi atau gagal di tahap ini. 

Contoh kasus yang sering terjadi: pembeli sudah tertarik dari konten, tapi karena balasan kamu lama atau kurang meyakinkan, mereka pindah ke toko lain. Skill komunikasi di DM sering lebih menentukan daripada kualitas produk itu sendiri.

#13. BU (Butuh Uang)

BU adalah kondisi di mana penjual ingin cepat menjual barang karena butuh dana.

Kalau kamu jeli, ini bisa jadi peluang bisnis. Misalnya kamu menemukan seller yang jual produk di bawah harga pasar karena BU, kamu bisa ambil barangnya lalu dijual ulang dengan margin normal. Banyak reseller memanfaatkan momen seperti ini untuk stok barang murah.

#14. Nego (Negosiasi)

Nego adalah proses tawar-menawar harga antara pembeli dan penjual.

Sebagai seller, kamu perlu strategi. Jangan semua harga bisa dinego bebas. Misalnya kamu bisa kasih batas seperti: “nego tipis ya kak”. Ini penting supaya margin kamu tetap aman. Kalau terlalu fleksibel, ujungnya kamu capek sendiri tanpa profit yang jelas.

#15. Merchant

Merchant adalah pihak yang menjual produk atau jasa secara online. Begitu kamu punya toko di marketplace, Instagram, atau website sendiri, kamu sudah masuk kategori merchant. 

Artinya, kamu bukan sekadar “jualan”, tapi juga bertanggung jawab terhadap pengalaman pelanggan, mulai dari respon chat sampai after sales.

#16. Price List

Price list adalah daftar harga produk yang kamu jual. Kelihatannya sederhana, tapi ini sering jadi masalah di banyak UMKM

Kalau pembeli harus tanya harga satu per satu, itu memperlambat proses closing. Dengan price list yang rapi (misalnya dalam bentuk katalog atau highlight Instagram), kamu bisa mempercepat keputusan pembelian.

#17. Official Store

Official store adalah toko resmi dari sebuah brand di marketplace. Dalam praktiknya, banyak pembeli membandingkan harga kamu dengan official store. Kalau kamu reseller, kamu harus punya nilai tambah, misalnya pelayanan lebih cepat, bonus, atau bundling, karena kalau hanya bersaing harga, kamu akan sulit menang.

#18. Sold Out

Sold out berarti stok produk habis. Menariknya, label ini bisa jadi strategi marketing juga. Banyak seller sengaja menampilkan “sold out” untuk menciptakan efek eksklusif dan meningkatkan minat saat restock. Tapi pastikan kamu benar-benar restock, jangan cuma gimmick.

19. Reseller

Reseller adalah orang yang membeli produk lalu menjualnya kembali. Berbeda dengan dropship, reseller punya kontrol lebih karena memegang stok sendiri. 

Contoh: kamu beli 20 pcs produk skincare dari supplier, lalu kamu jual ulang dengan branding sendiri. Margin biasanya lebih stabil, tapi butuh modal di awal.

#20. Mint Condition / Like New

Istilah ini digunakan untuk barang bekas dengan kondisi hampir seperti baru. Biasanya dipakai di pasar preloved. Contoh: kamu jual kamera bekas tapi jarang dipakai, kondisi 95% mulus, itu bisa disebut like new. Istilah ini membantu meningkatkan persepsi kualitas di mata pembeli.

#21. Hit and Run

Hit and run adalah perilaku calon pembeli yang banyak tanya tapi tidak jadi beli. Ini hal yang sangat umum. Misalnya ada yang tanya detail ukuran, warna, ongkir, bahkan minta foto tambahan, tapi setelah itu hilang. Sebagai seller, kamu perlu mengelola energi. Jangan terlalu fokus ke satu calon buyer, tetap layani yang lain.

#22. Checkout (CO)

Checkout adalah tahap akhir sebelum pembeli menyelesaikan transaksi. Banyak toko kehilangan penjualan di tahap ini. Penyebabnya bisa macam-macam, seperti website lambar, metode pembayaran terbatas, dan ongkir terasa mahal. 

Makanya, optimasi checkout itu krusial. Semakin simpel prosesnya, semakin tinggi peluang closing.

#23. Voucher

Voucher adalah kode diskon yang bisa digunakan saat checkout. Strategi ini efektif untuk menarik pembeli baru dan meningkatkan repeat order. 

Contoh: kamu kasih voucher “WELCOME10” untuk pembeli pertama. Ini sering terbukti meningkatkan conversion rate.

#24. Cashback

Cashback adalah pengembalian sebagian uang setelah transaksi. Berbeda dengan diskon langsung, cashback memberi efek “reward”. Misalnya pembeli dapat Rp10.000 setelah belanja. Ini bisa mendorong mereka kembali belanja di toko kamu.

#25. Best Seller

Best seller adalah produk yang paling laris di toko kamu. Dalam praktik, ini adalah “aset utama”. Banyak seller gagal berkembang karena terlalu sering ganti produk, padahal seharusnya fokus scale best seller, misalnya dengan iklan, bundling, atau variasi produk.

#26. OEM (Original Equipment Manufacturer)

Produk OEM adalah barang yang diproduksi oleh satu pihak, lalu dijual dengan brand lain. Contohnya banyak terjadi di aksesoris gadget. Kamu bisa jual produk dengan brand sendiri tanpa harus punya pabrik. Ini salah satu cara scaling bisnis tanpa produksi sendiri.

#27. PnP (Plug and Play)

PnP berarti produk bisa langsung digunakan tanpa instalasi rumit. Contoh: kamu jual webcam atau keyboard USB. Buyer tinggal colok, langsung pakai. Ini biasanya jadi selling point karena praktis.

#28. Ready Stock

Ready stock adalah kondisi barang sudah tersedia dan siap dikirim. Ini penting banget di marketplace. Banyak pembeli lebih memilih produk ready stock dibanding PO karena tidak mau menunggu. 

Bahkan selisih harga sedikit lebih mahal pun sering tidak jadi masalah selama barang bisa cepat sampai.

#29. SKU (Stock Keeping Unit)

SKU adalah kode unik untuk membedakan tiap produk. Kalau kamu punya banyak varian (warna, ukuran), SKU itu wajib. Tanpa SKU, risiko salah kirim sangat tinggi. Contoh sederhana: “TSHIRT-BLACK-L” untuk kaos hitam ukuran L.

#30. Wishlist

Wishlist adalah fitur yang memungkinkan pembeli menyimpan produk untuk dibeli nanti. Di lapangan, wishlist ini sering jadi “indikator diam-diam” minat pasar. 

Misalnya kamu lihat satu produk punya banyak wishlist tapi belum banyak pembelian—ini biasanya karena harga, timing, atau trust. Wishlist itu bukan sekadar fitur, tapi peluang closing yang belum dimaksimalkan.

#31. Preloved

Preloved adalah barang bekas yang masih layak pakai dan dijual kembali. Tren preloved sekarang bukan cuma soal “barang murah”, tapi juga gaya hidup. Banyak pembeli justru cari produk branded preloved karena lebih terjangkau.

Contoh: kamu jual tas branded second, tapi dengan foto yang bagus dan storytelling (“dipakai hanya 2x”), nilai jualnya bisa naik jauh dibanding sekadar bilang “barang bekas”.

#32. ETA (Estimated Time of Arrival)

ETA adalah estimasi waktu barang sampai ke pembeli. Ini krusial, terutama kalau kamu pakai sistem PO atau kirim dari luar kota/negara. Masalah yang sering terjadi: seller tidak transparan soal ETA.

Contoh real: kamu bilang pengiriman 3 hari, ternyata molor jadi 7 hari. Efeknya bukan cuma komplain, tapi trust bisa turun drastis.

#33. WTS (Want to Sell)

WTS digunakan saat kamu ingin menjual produk di komunitas atau forum. Biasanya formatnya sudah “template”, mencakup nama produk, kondisi, harga, lokasi, dan metode transaksi (COD/transfer).

Contoh: kamu jual kamera bekas di grup Facebook. Dengan format WTS yang jelas, calon pembeli tidak perlu tanya ulang, ini mempercepat proses closing.

#34. WTB (Want to Buy)

WTB adalah kebalikan dari WTS, yang digunakan saat seseorang mencari barang. Buat seller, ini peluang emas. Kenapa? Karena demand sudah ada.

Contoh: ada posting “WTB sepatu running size 42”. Kalau kamu punya stok, peluang deal jauh lebih tinggi dibanding kamu posting jualan biasa yang belum tentu dicari.

#35. BNIB (Brand New In Box)

BNIB berarti barang baru dan masih tersegel di dalam box. Istilah ini sering jadi “penentu trust”, terutama di produk elektronik. Pembeli biasanya lebih yakin karena barang belum pernah dibuka.

Contoh: dua seller jual produk sama, tapi satu tulis “BNIB”, satu tidak. Yang pakai BNIB biasanya lebih cepat closing.

#36. SFS (Shoutout for Shoutout)

SFS adalah strategi saling promosi antar akun. Biasanya digunakan saat akun masih kecil. Misalnya kamu punya 2.000 follower, kamu kerja sama dengan akun lain yang punya target market serupa.

Efeknya memang tidak selalu instan, tapi cukup efektif untuk menambah exposure, dan membangun awareness di awal. 

#37. Paid Promote (PP)

Paid promote adalah promosi berbayar di akun lain tanpa harus kirim produk. Contoh: kamu bayar akun dengan 100k follower untuk posting produk kamu.

Yang sering jadi kesalahan: hanya lihat jumlah follower, bukan engagement. Padahal akun dengan follower kecil tapi aktif sering lebih efektif.

#38. Endorse

Endorse adalah promosi menggunakan influencer dengan memberikan produk atau bayaran. Bedanya dengan PP, di sini influencer benar-benar menggunakan produk kamu.

Contoh nyata: kamu kirim skincare ke beauty influencer. Kalau cocok, mereka akan review secara natural. Ini biasanya lebih powerful karena ada unsur trust.

#39. No Afgan / No Rossa

Istilah “No Afgan / No Rossa” berasal dari lagu Sadis milik Afgan dan Tega milik Rossa. Artinya, pembeli tidak boleh menawar terlalu rendah. Di dunia online, ini semacam “kode halus” dari seller. Biasanya muncul karena terlalu sering dapat penawaran yang tidak masuk akal.

Contoh: harga produk Rp200 ribu, ditawar Rp50 ribu. Dengan mencantumkan istilah ini, kamu bisa “filter” pembeli yang tidak serius.

#40. Rekber (Rekening Bersama)

Rekber adalah pihak ketiga yang menahan uang sampai transaksi selesai. Biasanya dipakai untuk transaksi bernilai besar atau antar individu.

Contoh: kamu jual laptop ke orang luar kota. Pembeli transfer ke rekber dulu, setelah barang diterima, dana baru diteruskan ke kamu. Ini membuat kedua pihak merasa lebih aman.

#41. Refurbished

Refurbished adalah barang yang sudah diperbaiki sebelum dijual kembali. Dalam praktik, ini sering ditemukan di produk elektronik seperti laptop atau smartphone.

Contoh: kamu jual iPhone refurbished. Harganya lebih murah dari baru, tapi kamu wajib transparan soal kondisi agar tidak menimbulkan komplain di kemudian hari.

#42. BOGO (Buy One Get One)

BOGO adalah strategi beli satu gratis satu. Strategi ini sangat efektif untuk menghabiskan stok lama dan meningkatkan volume penjualan. 

Contoh: kamu punya stok lama yang susah laku, lalu kamu buat promo BOGO. Biasanya langsung ada pergerakan.

#43. Cruelty-Free

Produk yang tidak diuji pada hewan. Ini bukan sekadar istilah, tapi juga value. Di niche tertentu seperti skincare, label ini bisa jadi alasan utama seseorang membeli.

#44. Slow Response

Slow response berarti penjual lambat merespons chat. Dari pengalaman, ini salah satu “pembunuh” closing paling besar. Banyak pembeli tidak akan menunggu lama, mereka langsung pindah ke toko lain. Masalahnya bukan di produk, tapi di kecepatan respon.

#45. Fast Response

Fast response adalah kebalikan dari slow response. Seller yang cepat membalas chat biasanya lebih dipercaya, sering closing, dan disukai algoritma marketplace. 

Contoh sederhana: balas chat dalam 1–5 menit bisa meningkatkan peluang closing secara signifikan.

#46. Jastip (Jasa Titip)

Jastip adalah sistem di mana kamu membelikan barang untuk orang lain, biasanya dari luar kota atau luar negeri. Contoh: kamu buka jastip dari Jepang untuk produk tertentu. Kamu ambil margin dari biaya jasa. Model ini sedang naik karena banyak produk luar yang belum masuk ke Indonesia.

#47. Conversion Rate

Conversion rate adalah persentase pengunjung yang akhirnya membeli. Ini metrik penting dalam bisnis online.

Contoh:

  • 1.000 orang lihat produk
  • 50 orang beli
  • Conversion rate = 5%

Kalau traffic tinggi tapi conversion rendah, berarti ada yang perlu diperbaiki (harga, foto, atau deskripsi).

#48. Traffic

Traffic adalah jumlah pengunjung ke toko atau website kamu. Banyak pemula fokus ke traffic saja, padahal tanpa conversion, traffic tidak menghasilkan penjualan.

Idealnya:

  • Traffic tinggi
  • Conversion juga tinggi

Baru bisnis bisa scale.

#49. Upselling

Upselling adalah strategi menawarkan produk dengan nilai lebih tinggi. Contoh: pembeli mau beli paket basic, kamu tawarkan paket premium dengan benefit tambahan. Kalau dilakukan dengan tepat, ini bisa menaikkan nilai transaksi tanpa harus cari customer baru.

#50. Cross-selling

Cross-selling adalah menawarkan produk pelengkap dari barang yang dibeli. Contoh paling simpel:

  • Beli HP → ditawari casing
  • Beli sepatu → ditawari kaos kaki

Strategi ini terlihat sederhana, tapi sangat efektif untuk meningkatkan omzet tanpa biaya marketing tambahan.

Kesimpulan

Menguasai kamus bisnis online bukan hanya soal terlihat profesional, tapi soal bertahan dan berkembang di tengah persaingan digital. Semakin kamu paham istilah dan konteksnya, semakin mudah kamu mengambil keputusan yang tepat dalam bisnis.

Seiring bisnis kamu mulai tumbuh, order makin banyak, traffic meningkat, fondasi digital juga harus ikut siap. Salah satu langkah penting yang sering dilewatkan adalah punya website sendiri sebagai pusat bisnis.

Di sinilah Jasa Pembuatan Website dari IDwebhost bisa jadi solusi. Dengan website yang profesional, kamu tidak hanya bergantung pada marketplace, tapi juga punya aset digital sendiri yang bisa kamu kontrol penuh, mulai dari branding, data pelanggan, sampai strategi marketing jangka panjang.

Karena pada akhirnya, bisnis online yang kuat bukan cuma soal jualan hari ini, tapi tentang membangun fondasi yang siap untuk berkembang lebih besar ke depannya.