Konversikan Bisnis ke Instagram, Bukan Kemenangan Strategi Brand

  • Posted by
  • Posted in Tips & Trik
  • Komentar Dinonaktifkan pada Konversikan Bisnis ke Instagram, Bukan Kemenangan Strategi Brand Komentar

AndroidPIT-Instagram-search-teaser

Baru-baru ini instagram menyatakan bahwa dirinya adalah alat untuk berbisnis. Tapi, sebelum bergegas membuat profil, mari kita periksa bagaimana proses instagram menuju ke sana.

Sepuluh tahun yang lalu, Facebook juga meluncurkan page yang memungkinkan selebriti atau kelompok tertentu untuk membuat profil publik,  agar memudahkan mereka berinteraksi dengan fans di platform. Ini cara yang bagus untuk menumbuhkan advokasi.

Setiap tahunnya Facebook terus memperbaharui pagenya. Pada tahun 2007, lebih dari 10.000 UKM mengambil keuntungan dari page Facebook. Selanjutnya Facebook meluncurkan “page business”, cara ini membuat marketer tertarik untuk mengkonversi bisnis dengan wawasan dan analisis mendalam. Tahun 2014 Facebook meluncurka update news feed.

Perubahan ini akhirnya memaksa pemilik page Facebook untuk membayar jika konten mereka ingin dilihat dan diposting. Meskipun Facebook diposisikan sebagai news feed, namun cara ini dimanfaatkan Facebook agar bisa menghasilkan uang. Mereka berpikir bahwa ini merupakan peluang bisnis dengan cara gratis.

Kita tidak akan menyia-nyiakan waktu bukan? Kita harus bisa berfikir kreatif dengan strategi digital marketing dalam membangun komunitas. Dengan kata lain, tanpa page business pun kita bisa menjadi lebih baik.

Namun, tidak bisa kita pungkiri lagi bahwa Facebook merupakan aplikasi bisnis yang terus berkembang untuk mencapai tujuannya. Bahkan, Facebook mampu memprediksi Instagram sebagai anak didiknya. Tapi, jangan khawatir karena kita bisa gunakan informasi ini untuk membatasi dampak perubahan yang mungkin akan terjadi.

Tiga alasan itulah mengapa, kami tidak mengkonversi brand ke profil Instagram business.

  1. Pertahankan Jangkauan Organik

Keterlibatan nilai jangkau organik dapat membangun brand. Ketika followermu terlibat dengan kontenmu secara organik, dapat diartikan kamu payah dalam membaca minat mereka.

Lalu apa yang terjadi bila jangkauan organik terbatas? Kamu akan memiliki tayangan dan keterlibatan yang sedikit untuk mengarah ke konversi. Pada akhirnya penjualanmu akan sedikit.

Pilihan lain adalah membayar postingan yang dipromosikan. Tentu saja pembayaran ini terus berlangsung. Bahkan, jika brand-mu telah memiliki anggaran iklan, kamu perlu penayangan oragnik untuk tetap top of mind dengan follower-mu.

  1. Kamu Tidak Ingin Dicap Sebagai “Sponsor”

Secara alami akan banyak orang yang mengabaikan sponsor. Jika target konsumenmu kebanyakan orang seperti itu, maka kamu perlu mencari cara lain. Ini juga berlaku untuk instagram! Jika kamu melihat iklan di sebuah foto kami, yakin kamu akan mengabaikannya. Masalahnya bukan konten yang buruk, tapi karena masalah suka atau tidak suka.

Jika kamu mengkonversi ke bisnis, maka kamu perlu menjangkau followermu dengan iklan Instagram, kamu pun akan dicap sebagai “sponsor”. Mungkin saja kelompok sasaranmu juga akan mengabaikanmu. Yang lebih buruk mereka akan memblokir akunmu jika iklan tersebut sudah menganggau atau tidak relevan.

  1. Kemampuan Bertindak Sebagai Manusia

Kami percaya bahwa life style manusia berhubungan langsung dengan brand, untuk itu sebaiknya kita bisa memposisikan keduanya. Media sosial dibangun untuk manusia, sehingga banyak orang yang akan terinspirasi. Apabila memiliki brand yang baik, maka secara tidak langsung akan menciptakan hubungan emosional dengan follower.

Melakukan iklan di Instagram bukanlah cara satu-satunya. Jika kamu tetap melakukannya, kamu bisa menghilangkan sisi faktor manusia dengan brand. Ketika postingan kita disponsori dari sebuah brand, maka fitur robot dari postingan akan muncul secara otomatis dan fitur manusia akan hilang keasliannya.

Sebagai marketer dan pemilik bisnis, jagalah baik-baik akun instagram dan pertahankanlah jangkauan organiknya. Selama kita memutuskan untuk membuat konten yang relevan, maka kita akan melibatkan suatu hal yang otentik.