Pemilik website di manapun, pasti ingin melihat websitenya ramai oleh pengunjung setiap hari. Maka berbagai langkah yang terkait dengan optimasi SEO pun dilakukan, sampai mendapatkan angka trafik yang diinginkan. Hanya saja, kemudian muncul masalah lain. Yaitu, pengunjung hanya membuka satu halaman saja. Mereka tidak tertarik untuk menjelajahi halaman website yang lain. Situasi yang demikian, di dunia blogging dikenal dengan sebutan bounce rate. 

Tingginya angka bounce rate pada sebuah website bukanlah pertanda baik. Ini artinya, masih banyak pengunjung yang “sekedar lewat” saja di website. Ada banyak faktor mengapa angka angka bounce rate menjadi tinggi. 

Pada artikel kali ini, Jejualan akan membagikan pada Sahabat semua, bagaimana cara menurunkan bounce rate website yang tinggi. Jadi, simak artikel ini sampai selesai, ya. 

Apa Itu Bounce Rate? 

Sebelum mulai membahas bagaimana cara menurunkan bounce rate website, mari kenali dulu apa itu bounce rate. Merujuk Google Analytics, bounce rate adalah persentase pengunjung yang langsung meninggalkan website setelah membuka satu halaman saja. Sedangkan menurut Yoast SEO, plugin SEO terkemuka di WordPress, ada satu pengertian lagi tentang bounce rate. Bounce rate adalah situasi di mana pengunjung hanya membuka satu halaman website, tanpa melakukan tindakan apapun. Mereka tidak menekan tombol menu, CTA, atau tautan apapun yang ada di halaman tersebut. 

Baca Juga: Instagram Marketing Tools Gratis Untuk Bisnismu

Bounce rate sendiri dihitung menggunakan metode pembagian antara single page visit terhadap semua trafik yang masuk. Sebagai contoh, websitemu mendapatkan trafik 500 dan 250 diantaranya adalah single page visit. Maka, bounce ratenya adalah 50%. Seperti yang telah dikemukakan diatas, semakin tinggi persentasi bounce rate, berarti ada yang salah dengan strategi marketing websitemu. 

Tingginya angka bounce rate bisa jadi disebabkan beberapa hal. Pertama, kualitas konten yang ada di halaman website memang jelek, sehingga pengunjung telanjur tidak tertarik untuk menjelajah konten lainnya. Kedua, konten yang ada di website ternyata bukan seperti yang diharapkan oleh pengunjung, sehingga mereka akan mencari ke website lainnya. 

Cara Mengecek Bounce Rate di Google Analytics

Untuk mengetahui angka bounce rate di website, kamu bisa menggunakan Google Analytics. Untuk bisa mengecek bounce rate di website, kamu harus memasang Google Analytics di website terlebih dulu. Berikut ini adalah cara mengecek bounce rate menggunakan Google Analytics: 

  • Buka Google Analytics 
  • Klik Behavior > Overview
  • Dapatkan ringkasan keseluruhan. Di menu overview, kamu akan mendapatkan rata-rata di halaman website. 
  • Buka laporan bounce rate per halaman. Kamu juga bisa mendapatkan laporan bounce rate per halaman dengan membuka menu Full Report

Cara Menurunkan Bounce Rate Website yang Tinggi

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab tingginya angka bounce rate. Seperti user experience yang buruk, konten yang tidak berkualitas, dan lainnya. 

Bounce rate juga bukan semata berdasarkan pada lama waktu setiap kunjungan. Tetapi juga pengaruh dari aktivitas pengunjung selama berada di dalam website. Untuk mengurangi persentase bounce rate, kamu bisa melakukan beberapa cara di bawah ini: 

Meningkatkan Kualitas Konten 

Salah satu alasan mengapa pengunjung begitu cepat meninggalkan websitemu, bisa jadi karena konten milikmu tidak enak untuk dibaca. Untuk menghindari hal ini, kamu harus menyediakan konten berkualitas dengan susunan kata dan kalimat, serta struktur yang baik. 

Ada sangat banyak konten yang serupa konten milikmu di jagat internet. Terdapat ribuan website yang membahas konten yang sama. Maka, penting untuk membuat konten sebaik mungkin agar pengunjung tidak mudah beralih. 

Cara pertama, bagi artikelmu dalam paragraf-paragraf pendek. Pengguna internet lebih suka membaca cepat dan paragraf yang singkat memudahkan pembaca untuk membaca cepat. 

Kedua, manfaatkan subheading. Subheading dapat membantu pembaca untuk menemukan poin-poin penting yang ada di sebuah artikel. 

Ketiga, tambahkan visual yang menarik agar pembaca tidak mudah bosan karena hanya melihat teks dari awal sampai akhir artikel. Kamu bisa menambahkan foto, ilustrasi, infografik, bahkan video di artikelmu. 

Meningkatkan Kecepatan Website 

Pengunjung sangat tidak menyukai website yang lambat ketika diakses. Sebagus apapun konten yang kamu sajikan, tetapi website tidak dapat diakses dengan cepat, tidak akan ada pengaruhnya juga. Semakin lambat websitemu, maka bounce rate berpeluang semakin tinggi. 

Dalam sebuah survei, Google menyebut 53 persen pengguna internet akan meninggalkan website yang waktu loadingnya lebih dari 3 detik. Sedangkan menurut Neil Patel, dalam risetnya menyebut 79 persen pengunjung yang kecewa karena waktu loading yang lama menyatakan tak akan kembali ke website tersebut. 

Navigasi yang Mudah

Agar kontenmu lebih mudah ditemukan, maka websitemu harus memiliki navigasi yang mudah. Ketika pengunjung masuk ke halaman websitemu, mereka akan menggunakan navigasi untuk mencari konten, atau informasi yang mereka butuhkan. Navigasi yang rumit dapat membuat pengunjung kesulitan, sehingga memutuskan untuk meninggalkan websitemu. 

Baca Juga: Riset Kata Kunci Dengan Tools SEO Gratis

Navigasi yang mudah, juga tak bisa dilepaskan dari desain website yang harus mobile friendly. Perangkat mobile adalah perangkat yang paling banyak digunakan oleh pengguna internet. Sayangnya, banyak pemilik website masih banyak yang tidak menyadari hal ini. 

Gunakan Pop Up Sewajarnya

Banyak perdebatan para blogger mengenai pop up. Pop up bisa membantumu untuk memperoleh leads lewat subscriber blog dan newsletter. Di sisi lain, banyak juga pengunjung website yang tidak menyukai keberadaan pop up. 

Penggunaan pop up yang berlebihan hanya mendorong pengunjung untuk menutup halaman websitemu. Jadi, usahakan untuk mengatur kemunculan pop up sewajarnya, agar pengunjung tidak merasa kesal. 

Pilih Topik yang Relevan

Kalau websitemu mendapatkan trafik dari kata kunci yang sama sekali tidak berkaitan dengan yang kamu buat, peluang angka bounce rate akan semakin tinggi. Jadi, saat melakukan riset keyword, selain volume pencarian yang tinggi, perhatikan juga relevansinya dengan apa yang ingin kamu jual. Misalnya, produk yang kamu jual adalah pakaian, tapi malah membuat artikel tentang makanan. 

Mungkin, blogmu bisa saja mendapatkan trafik tinggi dari kata kunci tersebut, namun juga diiringi bounce rate yang tinggi karena tidak relevan dengan websitemu. 

Penutup

Bagaimanapun, bounce rate adalah salah satu parameter di website yang harus selalu kamu pantau. Dengan tingginya angka bounce rate, berarti kamu harus mengevaluasi strategi kontenmu. Semoga dengan artikel ini, kamu jadi lebih tahu cara menurunkan bounce rate website yang tinggi. 

Wujudkan ide bisnismu dengan website toko online dari Jejualan. Dapatkan berbagai fitur terbaik toko online harga terjangkau dari Jejualan, Buka Toko Online Cuma 20 Detik. 

Send Comment